Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Lalu... Dimanakah Nikmatnya Islam?

“Pada hari ini telah Aku Sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku semupurnakan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku Ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3) Pada ayat di atas ditegaskan bahwa seiring dengan sempurnanya agama Islam maka sempurna pula nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Artinya bahwa Islam itu adalah nikmat, bahkan nikmat-nikmat lain menjadi tidak bernilai jika tidak disertai dengan nikmat Islam. Masalahnya Islam yang dinyatakan Allah sebagai nikmat sering dirasakan sebagai beban yang memberatkan oleh kita. Misalnya ketika sedang nyenyak tidur, rasa kantuk masih terasa berat, udara dingin terasa menusuk, saat adzan Subuh berkumandang kita diperintahkan untuk bangun, menyibakkan selimbut, menyentuh air dingin dengan berwudhu dan menembus dinginnya malam untuk pergi ke masjid demi mengerjakan shalat Subuh berjama’ah. Lalu dimanakah nikmatnya Islam? Di bulan Ramadhan orang-orang non muslim dibebaskan makan dan minum sekehendak mereka, sementara umat I...

Hidup Mudah Selaras Sunnah

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali menjadikan dalam agama suaru kesempitan” (QS. Al-Hajj 78) Betapa mengherankannya manakala kita menyaksikan sebagian besar manusia mati-matian di dalam hidupnya seolah ia tidak akan pernah mati. Mati-matian untuk memperoleh secuil kenikmatan hidup, dengan mematikan hati nuraninya, mematikan pendengarannya, mematikan penglihatannya. Sejumput perhiasan dunia diraih dengan tidak lagi melihat halal-haram. Meraih tahta tanpa menghiraukan kehormatan dan kemuliaan diri. Merengkuh segala harta kekayaan dengan membuang segala kekayaan dirinya. Alangkah mengherankannya. Terlebih lagi, semua yang diperebutkan dan diraihnya di dunia hanya, hanyalah perhiasan sesaat. Ia hanyalah keindahan sesaat. Berapa lamakah manusia bisa menikmati seluruh harta kekayaannya di dunia ini? Ia tidak akan membawanya hingga ke kematiannya. Seberapa kuasakah manusia dengan segala kekuasaannya di dunia ini? Ia tidak akan bisa mengelak dari pertanggungjawaban di Yaumi...

Da'wah di Era Paska Reformasi, Da'wah Berorientasi Pasar

Selalu ada dua sisi melihat sebuah fenomena, termasuk memandang “da’wah” semacam ini. Sisi positif, menilai da’wah semacam itu adalah inovatif karena mampu menarik masyarakat dalam kegiatan keagamaan dan memberikan alternatif hidup yang lebih Islami. Walau faktanya, seringkali pula menunjukkan hal sebaliknya dan tidak kalah lebih mengkhawatirkan. Pertama, kekhawatiran jika ketertarikan masyarakat pada kegiatan “keagamaan” semacam ini bukanlah sebuah proses yang akan menghantarkan mereka untuk mendalami agama (Islam) lebih lanjut, tetapi justru berhenti dan menganggap begitulah Islam semestinya difahami dan dihayati. Kedua, fenomena maraknya da’wah sama sekali tidak berpengaruh pada berkurangnya kemaksiatan (korupsi, manipulasi, free sex) dan tidak meningkatkan komitmen kaum muslimin terhadap tegaknya (syari’ah) Islam dalam kehidupan mereka. Ketiga, da’wah semacam ini lebih nampak sebagai sebuah industri (bisnis) yang berorientasi profit bila dibandingkan dengan tujuan t...

Transformasi Da'wah di Era Paska Reformasi

Di era paska reformasi, da’wah pun mengalami transformasi. Jika sebelumnya, pada saat cengkraman negara begitu kuat, da’wah yang umum ialah mencari “selamat”, menjauh dari lapangan kehidupan masyarakat. Tema-tema da’wah berkisar seputar masalah akhirat dan ibadah ritual. Agama (Islam) adalah masalah pribadi (privasi) dan akhirat. Sesudah reformasi, da’wah bagai pendulum yang bergerak dari satu sisi (akhirat) ke sisi yang lain (dunia). Jika pada masa pra reformasi da’wah Islam cenderung anti-materialisme, setelah reformasi da’wah justru memompakan semangat hidup materialisme. Da’wah Islam tiba-tiba selaras dengan jiwa “kapitalisme” yang menjadikan segala hal menjadi industri. Segala sesuatu yang bernilai ada harganya. Sesuatu dikatakan produktif manakala mampu menghasilkan sesuatu, karya atau apapun yang bisa dihargai (dengan uang). Kaum muslimah atau ibu-ibu yang aktifitasnya “hanya” mengasuh dan mendidik putera-puterinya di rumah, bisa digolongkan tidak produktif. A...

Da'wah Islam di Era Paska Reformasi

TERDAPAT perbedaan besar situasi dan kondisi masyarakat Indonesia sebelum dan setelah (paska) reformasi pada tahun 1998. Perbedaan ini tidak hanya dalam masalah struktur politik serta kebijakan ekonomi (yang kian dicengkram kekuatan neoliberalisme-kapitalisme), tetapi juga kondisi psikologi masyarakat. Jika sebelum reformasi, cengkreman kekuatan negara (state) sangat dominan melalui perangkat aparatur negara dan pendekatan keamanan yang ketat, maka selepas reformasi kekuatan negara ( state ) digantikan kekuatan pasar ( market ). Kekuatan pasar tidak bisa lepas dari skenario global kapitalisme dimana AS dan Eropa menjadi lokomotifnya. Bahkan, para pengamatpun tidak sedikit yang menengarai peran kapitalisme global dalam melahirkan reformasi di Indonesia, melalui institusi IMF, World Bank dan kaki-tangan ekonom neoliberal di negeri ini (lebih populer disebut Mafia Barkeley). Globalisasi menjadi agenda yang dipaksakan ke seluruh negeri, termasuk Indonesia, terutama dalam masalah ekonomi (...