Langsung ke konten utama

Da'wah di Era Paska Reformasi, Da'wah Berorientasi Pasar


Selalu ada dua sisi melihat sebuah fenomena, termasuk memandang “da’wah” semacam ini. Sisi positif, menilai da’wah semacam itu adalah inovatif karena mampu menarik masyarakat dalam kegiatan keagamaan dan memberikan alternatif hidup yang lebih Islami. Walau faktanya, seringkali pula menunjukkan hal sebaliknya dan tidak kalah lebih mengkhawatirkan. Pertama, kekhawatiran jika ketertarikan masyarakat pada kegiatan “keagamaan” semacam ini bukanlah sebuah proses yang akan menghantarkan mereka untuk mendalami agama (Islam) lebih lanjut, tetapi justru berhenti dan menganggap begitulah Islam semestinya difahami dan dihayati.
Kedua, fenomena maraknya da’wah sama sekali tidak berpengaruh pada berkurangnya kemaksiatan (korupsi, manipulasi, free sex) dan tidak meningkatkan komitmen kaum muslimin terhadap tegaknya (syari’ah) Islam dalam kehidupan mereka. Ketiga, da’wah semacam ini lebih nampak sebagai sebuah industri (bisnis) yang berorientasi profit bila dibandingkan dengan tujuan tegaknya Islam di tengah masyarakat. Sehingga seruan bisnis adalah jihad atau bisnis untuk mendukung da’wah, berubah menjadi pertanyaan, apakah “jihad” untuk bisnis atau berdakwah untuk mendukung kepentingan bisnis?

Hal terakhir, adalah semaraknya da’wah model “pasar” seperti ini telah melemahkan otoritas para ulama. Otoritas ulama dilemahkan dengan mudahnya orang atau media massa memunculkan figur ulama tanpa latar belakang yang jelas dan kemampuan ilmu yang memadai. Semata dengan kemampuan retorika dan penampilan, orang dengan mudah dianggap “ulama” atau da’i. Celakanya, orang-orang yang dianggap ulama, kyai, atau da’i ini menikmati posisi yang sesungguhnya tidak layak. Menikmati dengan sadar ataupun dengan retorika penolakan yang santun.

Melemahnya otoritas ulama dengan bermunculannya para ulama dan da’i dipopulerkan melalui media massa, menyemburatkan kekhawatiran atas prediksi Rasulullah SAW akan munculnya para penghancur agama. Sabda beliau SAW: “Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang adil dari setiap generasi. Mereka ini akan membersihkannya dari penyimpangan (tahrif) kaum ekstrim, manipulasi kaum sesat dan penafsiran orang yang bodoh”.
Pada saat ini, tidak ada yang tidak bisa berkomentar tentang berbagai permasalahan agama. Para artis, pelawak dan hampir setiap orang, dengan ringan mengemukakan pendapatnya tentang agama, atau memutuskan sesuatu menurut “perasaan saya”.

Tugas orang-orang yang adil lah untuk mengembalikan semua pada posisinya yang benar. Meluruskan kaum ekstrim ke jalan tengah (moderat), menunjukkan keterangan atas orang-orang yang sesat, serta menggiring orang-orang bodoh pada majlis-majlis ta’lim. Ini memang bukanlah tugas ringan yang dibebankan pada perorangan, tetapi tugas berat yang harus dipikul bersama (amal jama’i) oleh setiap aktifis da’wah dan gerakan da’wah dari ummat ini. Keberadaan mereka selalu ada di tengah ummat, sekalipun da’wah mereka tidak populer, di”jauhi” dan diberi label negatif. Berkata Nabi SAW: “Senantiasa ada segolongan ummatku yang nampak diatas kebenaran, tidak memberi mudharat mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang perkara Allah sedangkan mereka dalam kondisi seperti itu”.

Para penegak kebenaran ini, disamping menjaga otoritas ulama dan mengembalikannya kepada orang-orang yang berkompeten dalam keilmuan dinieyah dan memiliki kualifikasi seorang ulama yang layak dijadikan tempat rujukan bagi masyarakat. Berbagai organisasi sosial keagamaan semisal Persatuan Islam, atau institusi yang menghimpun para ulama seperti Forum Ulama Ummat Islam Indonesia , kiprahnya tetap signifikan untuk menjaga garis da’wah agar tetap pada rel (manhaj) yang sesungguhnya, yakni berlandas pada hujjah yang nyata yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Pada sisi lain, berbagai partai Islam pun harus mampu memberikan ideologi alternatif untuk menggusur ide kapitalisme dari sistem ekonomi dan politik serta membersihkan seluruh gaya hidupnya dari akhlak masyarakat.

Da’wah para penegak al-haq inilah yang semestinya mendapat tempat dan mengkalibrasi kembali tujuan dan metode da’wah sebagaimana yang dikehendaki oleh pemberi risalah ini, yakni da’wah ilallah (menyeru hanya kepada Allah) berdasarkan dalil dan argumentasi yang nyata (ala bashirah).
 “Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf 108).
Da’wah ilallah semacam ini, memang tidak populer dan tidak bisa menjadi sebuah industri yang menghasilkan uang dari berbagi bisnis atas nama agama. Namun, da’wah semacam ini akan membangun komitmen ummat untuk bergerak diatas landasan ilmunya, menegakkan syari’ah Islam dalam kehidupan. Wallahu’alam. [IM]
3 dari 3 tulisan Da'wah di Era Paska Reformasi, Da'wah Berorientasi Pasar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Mudah Selaras Sunnah

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali menjadikan dalam agama suaru kesempitan” (QS. Al-Hajj 78) Betapa mengherankannya manakala kita menyaksikan sebagian besar manusia mati-matian di dalam hidupnya seolah ia tidak akan pernah mati. Mati-matian untuk memperoleh secuil kenikmatan hidup, dengan mematikan hati nuraninya, mematikan pendengarannya, mematikan penglihatannya. Sejumput perhiasan dunia diraih dengan tidak lagi melihat halal-haram. Meraih tahta tanpa menghiraukan kehormatan dan kemuliaan diri. Merengkuh segala harta kekayaan dengan membuang segala kekayaan dirinya. Alangkah mengherankannya. Terlebih lagi, semua yang diperebutkan dan diraihnya di dunia hanya, hanyalah perhiasan sesaat. Ia hanyalah keindahan sesaat. Berapa lamakah manusia bisa menikmati seluruh harta kekayaannya di dunia ini? Ia tidak akan membawanya hingga ke kematiannya. Seberapa kuasakah manusia dengan segala kekuasaannya di dunia ini? Ia tidak akan bisa mengelak dari pertanggungjawaban di Yaumi...