“Pada hari ini telah Aku Sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku semupurnakan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku Ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3) Pada ayat di atas ditegaskan bahwa seiring dengan sempurnanya agama Islam maka sempurna pula nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Artinya bahwa Islam itu adalah nikmat, bahkan nikmat-nikmat lain menjadi tidak bernilai jika tidak disertai dengan nikmat Islam. Masalahnya Islam yang dinyatakan Allah sebagai nikmat sering dirasakan sebagai beban yang memberatkan oleh kita. Misalnya ketika sedang nyenyak tidur, rasa kantuk masih terasa berat, udara dingin terasa menusuk, saat adzan Subuh berkumandang kita diperintahkan untuk bangun, menyibakkan selimbut, menyentuh air dingin dengan berwudhu dan menembus dinginnya malam untuk pergi ke masjid demi mengerjakan shalat Subuh berjama’ah. Lalu dimanakah nikmatnya Islam? Di bulan Ramadhan orang-orang non muslim dibebaskan makan dan minum sekehendak mereka, sementara umat I...
“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali menjadikan dalam agama suaru kesempitan” (QS. Al-Hajj 78) Betapa mengherankannya manakala kita menyaksikan sebagian besar manusia mati-matian di dalam hidupnya seolah ia tidak akan pernah mati. Mati-matian untuk memperoleh secuil kenikmatan hidup, dengan mematikan hati nuraninya, mematikan pendengarannya, mematikan penglihatannya. Sejumput perhiasan dunia diraih dengan tidak lagi melihat halal-haram. Meraih tahta tanpa menghiraukan kehormatan dan kemuliaan diri. Merengkuh segala harta kekayaan dengan membuang segala kekayaan dirinya. Alangkah mengherankannya. Terlebih lagi, semua yang diperebutkan dan diraihnya di dunia hanya, hanyalah perhiasan sesaat. Ia hanyalah keindahan sesaat. Berapa lamakah manusia bisa menikmati seluruh harta kekayaannya di dunia ini? Ia tidak akan membawanya hingga ke kematiannya. Seberapa kuasakah manusia dengan segala kekuasaannya di dunia ini? Ia tidak akan bisa mengelak dari pertanggungjawaban di Yaumi...