Allah berfirman:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 17–18)
Ayat dalam Surah Adz-Dzariyat ini membuka tirai tentang siapa yang dimaksud dengan muhsinin. Namun sebelum menelusuri ciri-ciri mereka, para ulama terlebih dahulu mengajak kita memahami hakikat ihsan—maqam tertinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Secara bahasa, kata muhsin berasal dari akar ahsana–yuhsinu–ihsānan, yang bermakna berbuat baik dengan sebaik-baiknya.
Adapun secara istilah, ihsan adalah menyempurnakan amal lahir dan batin. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa ihsan adalah keadaan hati yang dipenuhi muraqabah, yakni kesadaran terus-menerus bahwa Allah mengawasi setiap amal hamba.
Makna ini ditegaskan dalam hadits Jibril:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini adalah inti dari ajaran akhlak dan spiritualitas Islam, karena ia mengikat amal lahir dengan kesadaran batin.
Dari sinilah ayat-ayat tentang muhsinin dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 15–23 harus dipahami: bukan sekadar daftar amalan, tetapi potret manusia yang telah menyelaraskan hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.
Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, ungkapan “qālīlan mina al-layl mā yahja‘ūn” menunjukkan bahwa hati para muhsinin telah hidup. Mereka tidak menolak kebutuhan jasmani, tetapi menemukan kenikmatan yang lebih tinggi dalam bermunajat.
Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mencakup qiyamul lail, tilawah, doa, dan dzikir. Malam menjadi ruang kejujuran seorang hamba—tempat dimana ia hadir tanpa kepura-puraan.
Karakter ini dirangkum dengan indah dalam ungkapan yang dipopulerkan oleh Imam Hasan al-Banna:
رُهْبَانٌ فِي اللَّيْلِ وَفُرْسَانٌ فِي النَّهَارِ
“Para rahib di malam hari, para kesatria di siang hari”
Secara bahasa فُرْسَان (fursān) adalah jamak dari فارس (fāris), yaitu kesatria—penunggang kuda yang terlatih, berani, dan menjaga kehormatan. Ia bukan keberanian liar atau nekad tanpa perhitungan, tetapi keberanian yang terarah dan terkendali oleh iman.
Dengan demikian, seorang muhsin adalah hamba yang lembut dalam munajat di malam hari bagai seorang rahib, namun kuat, aktif, dan bertanggung jawab di siang hari.
Puncak dari kehidupan malam itu adalah istighfar di waktu sahur. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan kesempurnaan adab seorang hamba: semakin tinggi amalnya, semakin ia merasa butuh ampunan.
Di tengah kehidupan modern yang penuh distraksi, nilai ini menjadi sangat relevan. Banyak manusia kehilangan kedalaman karena kehilangan “malamnya”. Padahal dari sanalah kekuatan ruhani seorang muhsin dilahirkan.
Iman yang Membumi: Kepedulian Sosial Para Muhsinin
Allah melanjutkan:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan pada harta mereka terdapat hak bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa kedalaman ruhani tidak menjauhkan muhsinin dari manusia, tetapi justru mendekatkannya.
Dalam penjelasan Al-Qurtubi, penggunaan kata “haqq” menandakan bahwa kepedulian sosial adalah bagian dari amanah, bukan sekadar pilihan.
Dalam manhaj dakwah kita, keseimbangan antara ibadah dan kepedulian sosial menjadi prinsip utama.
Imam Hasan al-Banna menekankan bahwa Islam adalah sistem hidup yang menyeluruh (Manhajun Shāmilun), dan seorang mukmin sejati harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hal ini selaras dengan sabda Nabi:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Hadits ini menjadi prinsip penting dalam membangun masyarakat yang berkeadilan dan penuh kasih sayang. Ditengah dunia yang semakin individualistik, nilai ini menjadi sangat mendesak.
Muhsinin tidak hidup untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi sumber kebaikan bagi orang lain.
Kesadaran yang Menuntun: Tadabbur dan Tawakkal Para Muhsinin
Allah berfirman:
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 20–22)
Menurut Wahbah az-Zuhaili, ayat ini mengajak manusia untuk melihat dengan mata hati. Muhsinin adalah mereka yang tidak hanya hidup, tetapi memahami makna kehidupan.
Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ayat “di langit terdapat rezekimu” adalah pendidikan tauhid: bahwa sumber rezeki adalah Allah, bukan semata usaha manusia.
Dari sini lahir tawakkal—ketenangan batin setelah ikhtiar. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, inilah yang membuat muhsinin tetap tenang, tidak mudah gelisah, dan tidak diperbudak oleh kekhawatiran.
Khatimah
Muhsinin adalah pribadi yang utuh: hidupnya bercahaya di malam hari, tangannya terbuka di siang hari, dan hatinya tenang dalam memandang kehidupan.
Mereka adalah ruhban di malam hari dan fursan di siang hari—lembut dalam ibadah, kuat dalam amal, dan jernih dalam keyakinan.
Jalan ini mungkin sunyi, tetapi justru disanalah cahaya itu lahir. (im).jpg)
Komentar
Posting Komentar