Langsung ke konten utama

Fa Aina Tadzhabun: Kemana Perjalanan Hidup Kita Menuju?


 فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

“Maka ke mana kamu akan pergi? (QS. at Takwir (81) ayat 26)

Ayat ini sangat ringkas, namun memiliki makna yang sangat dalam, tajam dan lugas tentang perjalanan hidup kita.

Secara bahasa, kalimat “فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ؟” ini terdiri dari tiga unsur utama. فَ (fa): huruf penghubung yang menunjukkan konsekuensi atau kelanjutan dari pernyataan (ayat) sebelumnya, lalu أَيْنَ (aina): kata tanya yang berarti “kemana”.dan تَذْهَبُونَ (tadzhabūn): kata kerja dari akar kata ذَهَبَ yang berarti “pergi” atau “menuju”, dengan dhamir jama’ (kalian semua).

Dengan demikian, secara literal kalimat Fa Aina Tadzhabun? ini berarti: “Maka kemana kalian pergi?”

Para ulama tafsir menegaskan, ayat ini bukan sekadar pertanyaan geografis atau arah fisik, melainkan pertanyaan retoris yang sangat dalam maknanya. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan teguran Allah kepada manusia yang berpaling dari kebenaran, padahal hujjah telah ditegakkan dengan jelas melalui wahyu.

Hal ini berkaitan dengan ayat sebelumnya dimana Allah berfirman:

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ • لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

Artinya:
“Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 27–28)

Setelah itu, barulah datang pertanyaan: “فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ؟”

Menurut Imam Al-Qurthubi, ini adalah bentuk istifham inkari (pertanyaan yang mengandung pengingkaran), seakan Allah berkata: Jika jalan lurus sudah jelas, wahyu telah datang, lalu kemana lagi kalian akan pergi selain kepada kebenaran itu?

Penjelasan Ulama Tafsir dan Dimensi Maknawi

Para ulama tafsir klasik dan kontemporer memberikan penjelasan yang kaya terhadap ayat ini. Imam Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini adalah teguran keras bagi orang-orang yang menolak Al-Qur’an. Mereka telah mendengar kebenaran, tetapi tetap berpaling. Maka pertanyaan ini menunjukkan keheranan sekaligus celaan: jalan mana lagi yang lebih benar dari ini?

Dalam Tafsir Al-Tabari, Imam Al-Tabari menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah: ke arah mana kalian berpaling dari Kitab Allah, padahal di dalamnya terdapat petunjuk dan keselamatan? Ini menunjukkan bahwa segala jalan selain wahyu pada hakikatnya adalah penyimpangan.

Tafsir Fakhruddin Ar-Razi memberikan dimensi filosofis. Menurut ar-Razi, ayat ini mengandung makna bahwa manusia secara fitrah mencari kebenaran. Namun ketika kebenaran telah datang secara jelas, lalu manusia tetap berpaling, maka itu adalah bentuk penyimpangan dari fitrah itu sendiri.

Sedangkan dari perspektif tasawuf, ayat ini sering dipahami sebagai panggilan batin. Seorang sufi seperti Imam Al-Ghazali dalam karya-karyanya sering menekankan bahwa manusia pada hakikatnya sedang “berjalan” menuju sesuatu—entah menuju Allah atau menuju dunia.

Maka pertanyaan “فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ؟” menjadi semacam muhasabah ruhani: Ke mana hati ini diarahkan? Apa tujuan hidup yang sebenarnya kita kejar? Dalam kerangka ini, ayat ini bukan hanya ditujukan kepada orang kafir, tetapi juga kepada setiap mukmin yang lalai.

Dalam salah satu riwayat, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Setiap manusia berangkat di pagi hari, maka ia menjual dirinya: ada yang membebaskannya, dan ada yang membinasakannya.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa setiap manusia sedang bergerak menuju suatu tujuan. Tidak ada yang diam. Semua “pergi”—tetapi ke mana? Ini sejalan dengan makna ayat: manusia tidak bisa menghindari perjalanan eksistensialnya. 

Yang menjadi pertanyaan adalah arah perjalanan itu. Kemana?

Relevansi dalam Kehidupan Kontemporer

Di era modern ini, pertanyaan “فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ؟” justru semakin relevan. Dunia menawarkan begitu banyak “jalan”: karier, popularitas, kekayaan, ideologi, bahkan gaya hidup yang beragam. Namun tidak semua jalan itu membawa kepada ketenangan dan ridha Allah.

Banyak manusia hari ini mengalami krisis hidup, kebingungan arah. Secara materi mungkin berhasil, tetapi secara batin kosong. Dalam konteks ini, ayat ini menjadi cermin: Apakah kita sedang berjalan menuju hidup yang semakin bermakna, atau sebaliknya, sia-sia? Apakah kita masih berjalan sesuai dengan tujuan keberadaan di dunia ini, atau sekadar terseret arus dunia? Hari demi hari dijalani, tanpa jelas arahnya, hanya sekedar melewatkan hari?

Terlebih di zaman digital, manusia dibanjiri informasi. Sayangnya, tidak semua informasi membawa kebenaran. Bahkan, sebagian justru menjauhkan dari nilai-nilai ilahiah. Banyak informasi yang bermanfaat, tetapi jauh lebih banyak informasi “sampah”.

Maka pertanyaan ayat ini, kembali tetap relevan dan menjadi sangat penting: Setelah mengetahui kebenaran Al-Qur’an, mengapa kita masih mencari panduan hidup dari sumber yang rapuh? Jika pedoman itu telah ada, mengapa kita tidak selalu mengkalibrasi arah perjalanan hidup ini?

Pelajaran Ukhuwah dan Persatuan

Dalam konteks sosial, ayat ini juga bisa dipahami urgensinya. Umat Islam hari ini sering terpecah karena perbedaan kecil, bahkan dalam hal yang tidak prinsip. Hati terbelah karena masalah like or dislike. Ukhuwah terpecah karena perbedaan pendapat.

Padahal, jika semua kembali kepada Al-Qur’an sebagai “ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ”, maka pertanyaan Allah ini juga berlaku secara kolektif: Kemana umat ini hendak pergi jika meninggalkan petunjuk wahyu? Apakah perpecahan akan membawa kepada kemuliaan? Apakah dengan hati yang sempit kita bisa mengatasi musuh-musuh dakwah?

Nilai ukhuwah dalam Islam mengajarkan bahwa jalan yang benar adalah jalan persatuan dalam kebenaran, bukan sekadar kemenangan kelompok apalagi individu

Muhasabah Individu

Secara personal, ayat ini pun mengajak setiap orang untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apa yang menjadi tujuan hidup saya? Apakah langkah-langkah saya mendekatkan kepada Allah atau menjauhkan?

Dalam tradisi tasawuf, ini disebut sebagai muraqabah dan muhasabah. Imam Al-Ghazali menyebut bahwa hati yang hidup adalah hati yang selalu mengevaluasi arah perjalanannya.

Namun, ayat ini ayat ini tidak melarang manusia untuk “pergi” dalam arti beraktivitas duniawi. Islam tidak menolak kemajuan, ilmu, teknologi, atau kerja keras. Namun, yang ditekankan adalah orientasi.

Seorang mukmin sepatutnya sukses dalam kehidupan di dunia ini, tetapi arah akhirnya tetap kepada Allah. Jika tidak, maka ia termasuk dalam orang yang ditanya: “فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ؟”

Khatimah

Kalimat “فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ؟” adalah pertanyaan sederhana namun sangat mendalam. Ia bukan sekadar pertanyaan arah, tetapi pertanyaan tentang tujuan hidup, orientasi hati, dan pilihan eksistensial manusia.

Dalam perspektif bahasa, ia adalah pertanyaan retoris. Dalam tafsir ulama, ia adalah teguran dan ajakan kembali kepada kebenaran. Dalam tasawuf, ia adalah panggilan batin untuk kembali kepada Allah. Dan dalam kehidupan modern, ia adalah kompas yang mengingatkan manusia agar tidak tersesat dalam banyaknya jalan yang tampak benar.

Semoga kita termasuk orang-orang yang ketika ditanya oleh ayat ini, mampu menjawab dengan amal dan keikhlasan: bahwa perjalanan kita adalah menuju Allah, dengan berpegang pada Al-Qur’an, menjaga ukhuwah, dan menata hati. (im)

Sumber: pengajian ustadz Heri Ahmadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Wanita Haid Membaca Al-Qur’an: Antara Larangan dan Kebolehan dalam Bingkai Moderasi Fiqih

“Ustadz, apakah wanita yang sedang haid boleh membaca Al-Qur’an?” Pertanyaan ini sering muncul ditengah umat, terutama dari para muslimah yang ingin tetap dekat dengan Al-Qur’an dalam setiap keadaan. Pertanyaan ini bukanlah hal baru dalam khazanah fiqih Islam.  Para ulama sejak dahulu telah membahasnya secara mendalam, dengan perbedaan pendapat ( ikhtilaf ) yang lahir dari metode istinbath dan pemahaman dalil yang beragam. Penting bagi kita untuk memahami persoalan ini secara utuh—tanpa tergesa menyalahkan, dan tanpa meremehkan perbedaan. Ikhtilaf Ulama: Antara Larangan dan Kebolehan Para ulama terbagi menjadi dua kelompok besar dalam masalah ini: yang melarang wanita haid membaca Al-Qur’an dan yang membolehkannya dengan batasan tertentu. 1. Pendapat yang Melarang Mayoritas ulama dari kalangan mazhab Mazhab Hanafi, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hanbali berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh membaca Al-Qur’an, baik dengan lisan maupun dari mushaf. Mereka berdalil dengan hadits: لَا ...

A'jabu Imanan: Generasi yang Menakjubkan di Mata Rasulullah ﷺ

أَ يُّ الْخَلْقِ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟ قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ قَالَ: وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالُوا: فَالْأَنْبِيَاءُ قَالَ: وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ قَالُوا: فَنَحْنُ قَالَ: وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ قَالَ: إِنَّ أَعْجَبَ الْخَلْقِ إِلَيَّ إِيمَانًا لَقَوْمٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَجِدُونَ صُحُفًا فِيهَا كِتَابٌ يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya : “Makhluk mana yang paling menakjubkan imannya menurut kalian?” Mereka (para shahabat) menjawab: “Para malaikat.” Beliau bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan mereka berada di sisi Rabb mereka?” Mereka berkata: “Para nabi.” Beliau bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka?” Mereka berkata: “Kalau begitu kami.” Beliau bersabda: “Bagaimana kalian tidak beriman, sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian?” Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya yang paling menakjubka...