وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’” (QS. Al-A’raf: 172)
Ayat diatas, menceritakan sebuah peristiwa agung sebelum manusia lahir ke dunia. Ini adalah ajakan Allah ﷻ agar kita menengok asal-usul yang sering terlupakan.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, menyatakan bahwa ayat diatas menunjukkan bahwa Allah benar-benar mengambil kesaksian dari seluruh ruh manusia, sebagai bentuk penegakan hujjah agar manusia tidak beralasan di hari kiamat bahwa mereka tidak mengenal Tuhannya.
Lebih jauh, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan peneguhan fitrah tauhid dalam diri manusia. Artinya, setiap manusia membawa potensi dasar untuk mengenal Allah, meskipun ia lahir dalam lingkungan yang berbeda-beda.
Dalam perspektif tasawuf, peristiwa ini bukan sekadar sejarah metafisik, tetapi realitas batin yang masih hidup dalam diri manusia. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia memiliki kesiapan untuk ma’rifatullah, hanya saja sering tertutup oleh dunia.
Sementara itu, syaikh Sa’id Hawwa, seorang ulama dan da’i terkemuka asal Suriah, dalam berbagai karyanya tentang tazkiyatun nafs menegaskan:
“الفطرة تحمل في داخلها معرفة الله، ولكنها تحتاج إلى تذكير وإحياء”
“Fitrah membawa dalam dirinya pengenalan kepada Allah, namun ia membutuhkan pengingatan dan penghidupan kembali.”
Dengan demikian, setiap manusia pada hakikatnya: sejak awal secara fitrah telah mengenal Allah. Ruh manusia telah bersaksi atas keesaan-Nya dan dalam diri setiap manusia telah membawa benih tauhid dalam jiwanya. Namun perjalanan hidup seringkali membuat manusia lupa akan perjanjian tersebut.
Lahir ke Dunia: Awal Lupa dan Awal Tugas Mengingatkan
Ketika manusia dilahirkan ke dunia, ia tidak lagi mengingat secara sadar peristiwa “Alastu”. Namun jejaknya tetap ada dalam bentuk fitrah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah.”
(HR. Bukhari dan Muslim – hadits shahih)
Imam An-Nawawi, menjelaskan, bahwa fitrah yang dimaksud disini adalah kesiapan untuk menerima tauhid dan kebenaran.
Disinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Mereka bukan sekadar membesarkan anak secara fisik, tetapi juga menjaga dan menghidupkan fitrah tauhid yang telah tertanam sejak alam ruh.
Dalam tradisi Islam, salah satu bentuk simbolik dan spiritual dari upaya ini adalah mengumandangkan adzan di telinga bayi yang baru lahir.
Adzan di Telinga Bayi: Mengingatkan Kembali Perjanjian Ruh
Terdapat hadits yang diriwayatkan dari Abu Rafi’ رضي الله عنه:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وُلِدَ
“Bahwa Nabi ﷺ mengumandangkan adzan di telinga Hasan bin Ali ketika ia dilahirkan.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Sebagian ulama hadits menilai riwayat ini sebagai hasan, meskipun terdapat perbedaan pendapat tentang kekuatannya. Namun banyak ulama fiqih yang tetap mengamalkannya dalam kerangka keutamaan (fadhail al-a’mal).
Dalam kitab Fiqh As-Sunnah, Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa adzan di telinga bayi termasuk amalan yang dianjurkan oleh sebagian ulama. Ini sebagai bentuk memperdengarkan kalimat tauhid pertama kali kepada bayi
Sementara dalam Fiqh Al-Islam wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa hukum mengadzankan bayi adalah mustahabb (dianjurkan) menurut mayoritas ulama. Tujuannya adalah tabarruk (mengharap keberkahan) dan penanaman tauhid sejak awal
Sementara itu para ulama tasawuf memandang bahwa adzan ini seakan-akan mengingatkan kembali ruh akan perjanjian “Alastu”, sekaligus menegaskan bahwa kehidupan di dunia harus kembali kepada tauhid
Kalimat pertama yang didengar bayi adalah:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
Ini bukan sekadar suara, tetapi deklarasi bahwa Allah adalah yang paling besar dan hidup manusia harus berorientasi kepada-Nya
Perspektif Tasawuf: Dari Fitrah Menuju Kesadaran
Dalam perjalanan hidup, manusia seringkali menjauh dari fitrahnya. Dunia, lingkungan, dan hawa nafsu dapat menutupi cahaya tauhid yang telah ada sejak awal.
Sa’id Hawwa menjelaskan bahwa tugas utama tarbiyah ruhiyah adalah:
“إعادة الإنسان إلى فطرته الأولى”
“Mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang pertama.”
Ini berarti seluruh proses tarbiyah dalam Islam—baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dakwah—bertujuan untuk mengingatkan manusia akan asal-usulnya dan menghidupkan kembali kesaksiannya kepada Allah
Dalam konteks ini, ibadah bukanlah sesuatu yang asing bagi manusia, tetapi sesuatu yang selaras dengan fitrahnya. Ibadah, yang menjadi raison d'etre diciptakannya manusia, adalah sesuatu yang mengembalikan dirinya kepada keadaan asalnya
Relevansi Kehidupan: Mengapa Banyak Manusia Kehilangan Arah?
Jika manusia pada asalnya telah mengenal Allah, mengapa banyak yang tersesat?
Jawabannya bukan karena tidak memiliki fitrah, tetapi ada banyak sebab. Tiga diantaranya, karena fitrah itu tertutup oleh berbagai penyakit hati, tidak diingatkan atau bahkan diabaikan.
Terlebih dalam kehidupan modern saat ini, manusia sering disibukkan oleh urusan materi (dunia), jauh dari dzkiri serta kehilangan makna hidupnya.:
Padahal dalam dirinya, akan selalu ada suara halus yang bertanya: dari mana aku berasal? Untuk apa aku hidup? Suara itu adalah gema dari perjanjian “Alastu”. Perjanjian di alam ruh.
Maka tugas dakwah adalah mengingatkan kembali, bukan memaksa, agar ingat kembali ke perjanjian awal di alam ruh. Menjaga fitrah, memeliharanya dan menghidupkan fitrah, bukan menekannya.
Khatimah
Perjalanan manusia tidak dimulai dari dunia, tetapi dari alam ruh, ketika ia bersaksi bahwa Allah adalah Rabbnya.
Peristiwa itu tidak hilang, tetapi tersimpan dalam fitrah. Ketika seorang bayi lahir, Islam mengajarkan untuk mengingatkan kembali perjanjian itu melalui adzan—sebuah simbol bahwa hidup ini harus kembali kepada tauhid.
Maka kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah perjalanan untuk mengingat kembali, menguatkan kembali dan membuktikan kembali kesaksian tersebut.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya pernah berkata “بَلَىٰ”, tetapi juga hidup sesuai dengan kesaksian itu. (im)
Ditulis berdasarkan apa yang disampaikan ustadz Heri Ahmadi.

Komentar
Posting Komentar