Allah berfirman: كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 17–18) Ayat dalam Surah Adz-Dzariyat ini membuka tirai tentang siapa yang dimaksud dengan muhsinin . Namun sebelum menelusuri ciri-ciri mereka, para ulama terlebih dahulu mengajak kita memahami hakikat ihsan —maqam tertinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah. Secara bahasa, kata muhsin berasal dari akar ahsana–yuhsinu–ihsānan , yang bermakna berbuat baik dengan sebaik-baiknya. Adapun secara istilah, ihsan adalah menyempurnakan amal lahir dan batin. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa ihsan adalah keadaan hati yang dipenuhi muraqabah , yakni kesadaran terus-menerus bahwa Allah mengawasi setiap amal hamba. Makna ini ditegaskan dalam hadits Jibril: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ “E...
Kumpulan tulisan yang diperoleh dari berbagai majlis ilmu dan interaksi dengan para ustadz.