“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali menjadikan dalam agama suaru kesempitan” (QS. Al-Hajj 78)
Betapa mengherankannya manakala kita menyaksikan sebagian besar manusia mati-matian di dalam hidupnya seolah ia tidak akan pernah mati. Mati-matian untuk memperoleh secuil kenikmatan hidup, dengan mematikan hati nuraninya, mematikan pendengarannya, mematikan penglihatannya. Sejumput perhiasan dunia diraih dengan tidak lagi melihat halal-haram. Meraih tahta tanpa menghiraukan kehormatan dan kemuliaan diri. Merengkuh segala harta kekayaan dengan membuang segala kekayaan dirinya. Alangkah mengherankannya.
Terlebih lagi, semua yang diperebutkan dan diraihnya di dunia hanya, hanyalah perhiasan sesaat. Ia hanyalah keindahan sesaat. Berapa lamakah manusia bisa menikmati seluruh harta kekayaannya di dunia ini? Ia tidak akan membawanya hingga ke kematiannya. Seberapa kuasakah manusia dengan segala kekuasaannya di dunia ini? Ia tidak akan bisa mengelak dari pertanggungjawaban di Yaumil Hisab kelak. Seberapa lama manusia bisa menikmati kecantikan dan ketampanan fisiknya? Sebelum akhirnya jasad yang dibanggakan itu masuk kubur dan menjadi tanah.
Malahan, dunia yang dikejar mati-matian, habis-habisan, tanpa mengindahkan lagi aturan Allah SWT, tidaklah memberikan apa-apa bagi manusia, selain kepuasan ragawi yang sesaat. Kepuasan ragawi hanyalah sesaat dan semu. Sesaat bila dibandingkan dengan umur yang dimiliki manusia. Sesaat pula bila diukur dengan kenikmatan yang dirasakan raga manusia. Dan sedikit, bila diukur dengan kemampuan raga untuk menikmatinya. Kenikmatan dunia pun adalah semu, ia tidak pernah bisa benar-benar bisa memuaskan nafsu raga manusia. Nafsu manusia bila tidak dikendalikan dengan agama, akan terus tumbuh tanpa ujung. Nafsu manusia semakin diikuti semakin menjauh, semakin dipenuhi semakin haus. Ia bagaikan rasa haus yang dipenuhi air laut, semakin diminum semakin kehausan. Begitulah manusia yang tidak mengendalikan nafsunya, waktu dan tenaganya dihabiskan mengejar segala kenikmatan dunia untuk memenuhi hawa nafsunya. Habislah umurnya.
Hidup tanpa agama, mengikuti aturan yang dibuat oleh hawa nafsunya sendiri, adalah sumber dari kerumitan, kesulitan dan kesengsaraan dalam hidup manusia. Rumit karena masing-masing manusia memiliki ukuran nafsunya masing-masing, kebenaran dan tata nilai dalam kehidupan bisa disusun dan dirombak sesuai kebutuhan nafsunya. Tujuan hidup pun sangatlah pendek dan rendah, sekedar hidup di dunia ini dan memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia. Tidak ada harapan setelah kematian.
Jika hidup dilandaskan pada tata nilai yang serba nisbi, kebahagiaan ditakar dengan pemenuhan kebutuhan raga di dunia, yang akan dirasakan manusia hanyalah kehampaan dan kesengsaraan dalam hidup. Sengsara karena nafsu pada harta kekayaan hanya menumbuhkan keserakahan dan rasa kurang. Dunia dan seluruh isinya pun, tidak akan bisa memuaskan keserakahan. Sengsara karena nafsu pada kekuasaan (politik atau ekonomi) membangkitkan ambisi yang tidak pernah berakhir, hanya tanah (kubur)lah yang bisa mengakhiri ambisi dan angan-angan manusia. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (QS. At-Takaatsur 1-2)
Begitulah hidup manusia, tanpa petunjuk dan pembimbing yang bisa diikuti. Maka, beruntunglah bagi kaum muslimin. Hidup bagi mereka menjadi begitu mudah dan mendatangkan berbagai kebahagiaan, dalam kondisi apapun. Di dalam naungan petunjuk Allah, seluruh yang dialami manusia akan menjadi amal ibadah dan kepuasan batin. Hanya batin (hati) lah yang bisa ditenangkan dan dipuaskan. Hatilah yang akan memandu raga sehingga bisa menikmati apa yang dialami dan dirasakannya. Hati pulalah, bukan raga, yang akan mewarnai hidup manusia, sengsara atau bahagia, hitam atau putih.
Beruntunglah bagi kaum muslimin, hidup menjadi begitu mudah, karena Allah SWT telah menurunkan risalah yang sempurna, lengkap, untuk menjadi penuntun bagi kehidupan manusia. Tidak ada satu sisi pun dalam kehidupan manusia kecuali Islam telah menjelaskannya dengan rinci atau berupa prinsip-prinsipnya. Semakin mudah lah bagi kaum muslimin untuk menjalani hidupnya dengan kehadiran Rasulullah SAW yang menjelaskan Islam dan menggambarkan secara sempurna dalam kehidupan.
Jadi sesungguhnya, apa yang seharusnya dilakukan kaum muslimin hanyalah tinggal mengikuti jalan (sunnah) yang telah diretas oleh Rasulullah SAW. Bila itu diumpamakan sebagai perjalanan, kaum muslimin tinggal menikmatinya. Nikmatilah perjalanan hidup diatas sunnah Nabi SAW, adakalanya ia lurus tanpa hambatan, kadangkala menikung tajam, sesekali naik sesekali turun. Ikuti dan nikmati saja. Lihatlah keindahan pemandangan sepanjang jalan, di kiri di kanan jalan. Ambillah bekal-bekal yang mungkin kita temukan di perjalanan, atau mungkin pula perhiasan-perhiasan. Semua itu adalah karunia Allah. Nikmatilah sekedarnya sambil tetap berjalan mengikuti sunnah. Suatu saat, cepat atau lambat, engkau akan sampai di ujung perjalanan dan bertemu dengan Tuhan (Rabb)-mu
Itulah benang merah dari kumpulan risalah ringkas ini. Sesungguhnya hidup manusia itu mudah dan menyenangkan, jika mereka mengikuti sunnah, jalan hidup yang telah dibentangkan oleh Rasulullah SAW…[ed: IM]
KH. Hilman Rosyad Syihab, Lc alumnus Universitas Islam Madinah.
Komentar
Posting Komentar