Da’wah Islam tiba-tiba selaras dengan jiwa “kapitalisme” yang menjadikan segala hal menjadi industri. Segala sesuatu yang bernilai ada harganya. Sesuatu dikatakan produktif manakala mampu menghasilkan sesuatu, karya atau apapun yang bisa dihargai (dengan uang). Kaum muslimah atau ibu-ibu yang aktifitasnya “hanya” mengasuh dan mendidik putera-puterinya di rumah, bisa digolongkan tidak produktif. Agar “produktif” mereka pun mulai didorong untuk merintis usaha di rumah atau mulai mengajukan berbagai aplikasi ke kantor-kantor.
Perangkat pasar pun, seperti ilmu pemasaran (marketing), periklanan (advertising), pengelola kegiatan (event organizer) pun tiba-tiba menjadi perangkat yang tidak kalah pentingnya bagi “dunia” da’wah. Bukan hal yang asing lagi jargon, kosakata, dan kriteria da’wah dan ukuran keberhasilan pun mulai berubah. Sebagaimana halnya dalam pemasaran, untuk meraih pangsa pasar (market-share) yang besar, anda tidak harus memiliki produk atau jasa yang berkualitas. Jika pemasarannya mumpuni, walau produk atau jasa yang ditawarkan biasa-biasa saja atau bahkan sampah sekalipun, pasar pun bisa takluk. Begitupula halnya da’wah di era reformasi.
Da’wah di era reformasi yang berorientasi “pasar “ (market-oriented) adalah da’wah yang mampu menarik masyarakat luas. Kekuatan dalil, kemampuan ilmu agama, bukan lagi hal yang mutlak diperlukan. Bahkan, untuk menjadi seorang da’i yang populer pun tidak perlu jauh-jauh menimba ilmu ke universitas-universitas di Timur Tengah. Tanpa menguasai bahasa Arab pun da’wah bisa ‘laku”. Untuk menguasai “pasar”, kemasan da’wah lebih menarik. Kepiawaian berpidato, mendramatisir suasana (acting), kemampuan menghibur dan memikat emosi pendengar (dan juga penonton) lebih bisa diandalkan daripada “tumpukan” ilmu dan dalil. Jika perlu, untuk menguras emosi hadirin, dibangun pula suasana (ambience) ruangan, didukung kecanggihan sarana audio-visual. Hadirin bisa secara segera (instant) sedih dan menangis, merasakan “keagungan Allah” tanpa perlu memahami apalagi menghayati al-Qur’an dan al-Hadits.
Da’wah yang bisa diterima oleh masyarakat luas (marketable) ialah da’wah yang materinya sesuai dengan selera “pasar’. Masyarakat senang dengan da’wah yang sejuk dan menentramkan. Artinya, da’wah minus jihad dan amar ma’ruf nahyi munkar, da’wah tanpa ada komitmen. Da’wah harus menjadi penyejuk bagi kaum profesional yang sudah penat dalam kesehariannya. Da’wah bisa menjadi pembersih bagi para pejabat dan pengusaha yang berlumuran usaha-usaha kotor (haram). Da’wah yang mudah dicerna, tidak perlu dalil. Da’wah yang aplikatif artinya langsung terasa (instant) dan terlihat. Da’wah yang tidak mempersulit, artinya da’wah yang menghibur .
Da’wah semacam inilah yang akan disambut pasar saat ini. Orang akan berbondong-bondong hadir layaknya menuju sebuah pertunjukkan (show) dan mereka keluar dari kegiatan da’wah dengan perasaan puas (terhibur) sebagaimana keluar dari sebuah pertunjukkan. Media elektronik pun menyambut da’wah semacam ini dan ikut campur. Untuk menambah semarak da’wah, kemasan pun lebih serius dipikirkan. Dihadirkanlah para artis mendampingi sang “da’i”, bila perlu para pelawak pun ikut “menceramahi” para hadirin dengan segala ilmu dan daya kekonyolannya. Hasilnya, da’wah semacam ini efektif… untuk mengangkat rating dan menjadikan da’wah sebagai industri hiburan “rohani’. [IM]
2 dari 3 Tulisan Da'wah Era Paska Reformasi, Da'wah Berorientasi Pasar.
Komentar
Posting Komentar