Langsung ke konten utama

Transformasi Da'wah di Era Paska Reformasi

Di era paska reformasi, da’wah pun mengalami transformasi. Jika sebelumnya, pada saat cengkraman negara begitu kuat, da’wah yang umum ialah mencari “selamat”, menjauh dari lapangan kehidupan masyarakat. Tema-tema da’wah berkisar seputar masalah akhirat dan ibadah ritual. Agama (Islam) adalah masalah pribadi (privasi) dan akhirat. Sesudah reformasi, da’wah bagai pendulum yang bergerak dari satu sisi (akhirat) ke sisi yang lain (dunia). Jika pada masa pra reformasi da’wah Islam cenderung anti-materialisme, setelah reformasi da’wah justru memompakan semangat hidup materialisme.

Da’wah Islam tiba-tiba selaras dengan jiwa “kapitalisme” yang menjadikan segala hal menjadi industri. Segala sesuatu yang bernilai ada harganya. Sesuatu dikatakan produktif manakala mampu menghasilkan sesuatu, karya atau apapun yang bisa dihargai (dengan uang). Kaum muslimah atau ibu-ibu yang aktifitasnya “hanya” mengasuh dan mendidik putera-puterinya di rumah, bisa digolongkan tidak produktif. Agar “produktif” mereka pun mulai didorong untuk merintis usaha di rumah atau mulai mengajukan berbagai aplikasi ke kantor-kantor.

Perangkat pasar pun, seperti ilmu pemasaran (marketing), periklanan (advertising), pengelola kegiatan (event organizer) pun tiba-tiba menjadi perangkat yang tidak kalah pentingnya bagi “dunia” da’wah. Bukan hal yang asing lagi jargon, kosakata, dan kriteria da’wah dan ukuran keberhasilan pun mulai berubah. Sebagaimana halnya dalam pemasaran, untuk meraih pangsa pasar (market-share) yang besar, anda tidak harus memiliki produk atau jasa yang berkualitas. Jika pemasarannya mumpuni, walau produk atau jasa yang ditawarkan biasa-biasa saja atau bahkan sampah sekalipun, pasar pun bisa takluk. Begitupula halnya da’wah di era reformasi.

Da’wah di era reformasi yang berorientasi “pasar “ (market-oriented) adalah da’wah yang mampu menarik masyarakat luas. Kekuatan dalil, kemampuan ilmu agama, bukan lagi hal yang mutlak diperlukan. Bahkan, untuk menjadi seorang da’i yang populer pun tidak perlu jauh-jauh menimba ilmu ke universitas-universitas di Timur Tengah. Tanpa menguasai bahasa Arab pun da’wah bisa ‘laku”. Untuk menguasai “pasar”, kemasan da’wah lebih menarik. Kepiawaian berpidato, mendramatisir suasana (acting), kemampuan menghibur dan memikat emosi pendengar (dan juga penonton) lebih bisa diandalkan daripada “tumpukan” ilmu dan dalil. Jika perlu, untuk menguras emosi hadirin, dibangun pula suasana (ambience) ruangan, didukung kecanggihan sarana audio-visual. Hadirin bisa secara segera (instant) sedih dan menangis, merasakan “keagungan Allah” tanpa perlu memahami apalagi menghayati al-Qur’an dan al-Hadits.

Da’wah yang bisa diterima oleh masyarakat luas (marketable) ialah da’wah yang materinya sesuai dengan selera “pasar’. Masyarakat senang dengan da’wah yang sejuk dan menentramkan. Artinya, da’wah minus jihad dan amar ma’ruf nahyi munkar, da’wah tanpa ada komitmen. Da’wah harus menjadi penyejuk bagi kaum profesional yang sudah penat dalam kesehariannya. Da’wah bisa menjadi pembersih bagi para pejabat dan pengusaha yang berlumuran usaha-usaha kotor (haram). Da’wah yang mudah dicerna, tidak perlu dalil. Da’wah yang aplikatif artinya langsung terasa (instant) dan terlihat. Da’wah yang tidak mempersulit, artinya da’wah yang menghibur .

Da’wah semacam inilah yang akan disambut pasar saat ini. Orang akan berbondong-bondong hadir layaknya menuju sebuah pertunjukkan (show) dan mereka keluar dari kegiatan da’wah dengan perasaan puas (terhibur) sebagaimana keluar dari sebuah pertunjukkan. Media elektronik pun menyambut da’wah semacam ini dan ikut campur. Untuk menambah semarak da’wah, kemasan pun lebih serius dipikirkan. Dihadirkanlah para artis mendampingi sang “da’i”, bila perlu para pelawak pun ikut “menceramahi” para hadirin dengan segala ilmu dan daya kekonyolannya. Hasilnya, da’wah semacam ini efektif… untuk mengangkat rating dan menjadikan da’wah sebagai industri hiburan “rohani’. [IM]

2 dari 3 Tulisan Da'wah Era Paska Reformasi, Da'wah Berorientasi Pasar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Wanita Haid Membaca Al-Qur’an: Antara Larangan dan Kebolehan dalam Bingkai Moderasi Fiqih

“Ustadz, apakah wanita yang sedang haid boleh membaca Al-Qur’an?” Pertanyaan ini sering muncul ditengah umat, terutama dari para muslimah yang ingin tetap dekat dengan Al-Qur’an dalam setiap keadaan. Pertanyaan ini bukanlah hal baru dalam khazanah fiqih Islam.  Para ulama sejak dahulu telah membahasnya secara mendalam, dengan perbedaan pendapat ( ikhtilaf ) yang lahir dari metode istinbath dan pemahaman dalil yang beragam. Penting bagi kita untuk memahami persoalan ini secara utuh—tanpa tergesa menyalahkan, dan tanpa meremehkan perbedaan. Ikhtilaf Ulama: Antara Larangan dan Kebolehan Para ulama terbagi menjadi dua kelompok besar dalam masalah ini: yang melarang wanita haid membaca Al-Qur’an dan yang membolehkannya dengan batasan tertentu. 1. Pendapat yang Melarang Mayoritas ulama dari kalangan mazhab Mazhab Hanafi, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hanbali berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh membaca Al-Qur’an, baik dengan lisan maupun dari mushaf. Mereka berdalil dengan hadits: لَا ...

A'jabu Imanan: Generasi yang Menakjubkan di Mata Rasulullah ﷺ

أَ يُّ الْخَلْقِ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟ قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ قَالَ: وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالُوا: فَالْأَنْبِيَاءُ قَالَ: وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ قَالُوا: فَنَحْنُ قَالَ: وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ قَالَ: إِنَّ أَعْجَبَ الْخَلْقِ إِلَيَّ إِيمَانًا لَقَوْمٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَجِدُونَ صُحُفًا فِيهَا كِتَابٌ يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya : “Makhluk mana yang paling menakjubkan imannya menurut kalian?” Mereka (para shahabat) menjawab: “Para malaikat.” Beliau bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan mereka berada di sisi Rabb mereka?” Mereka berkata: “Para nabi.” Beliau bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka?” Mereka berkata: “Kalau begitu kami.” Beliau bersabda: “Bagaimana kalian tidak beriman, sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian?” Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya yang paling menakjubka...

Fa Aina Tadzhabun: Kemana Perjalanan Hidup Kita Menuju?

  فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ “Maka ke mana kamu akan pergi? (QS. at Takwir (81) ayat 26) Ayat ini sangat ringkas, namun memiliki makna yang sangat dalam, tajam dan lugas tentang perjalanan hidup kita. Secara bahasa, kalimat “فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ؟” ini terdiri dari tiga unsur utama. فَ ( fa ): huruf penghubung yang menunjukkan konsekuensi atau kelanjutan dari pernyataan (ayat) sebelumnya, lalu أَيْنَ ( aina ): kata tanya yang berarti “kemana”.dan تَذْهَبُونَ ( tadzhabūn ): kata kerja dari akar kata ذَهَبَ yang berarti “pergi” atau “menuju”, dengan dhamir jama’ (kalian semua). Dengan demikian, secara literal kalimat Fa Aina Tadzhabun? ini berarti: “Maka kemana kalian pergi?” Para ulama tafsir menegaskan, ayat ini bukan sekadar pertanyaan geografis atau arah fisik, melainkan pertanyaan retoris yang sangat dalam maknanya. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan teguran Allah kepada manusia yang berpaling dari kebenaran, padahal hujjah telah ditegakkan dengan...