Langsung ke konten utama

Lalu... Dimanakah Nikmatnya Islam?


“Pada hari ini telah Aku Sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku semupurnakan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku Ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Pada ayat di atas ditegaskan bahwa seiring dengan sempurnanya agama Islam maka sempurna pula nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Artinya bahwa Islam itu adalah nikmat, bahkan nikmat-nikmat lain menjadi tidak bernilai jika tidak disertai dengan nikmat Islam. Masalahnya Islam yang dinyatakan Allah sebagai nikmat sering dirasakan sebagai beban yang memberatkan oleh kita. Misalnya ketika sedang nyenyak tidur, rasa kantuk masih terasa berat, udara dingin terasa menusuk, saat adzan Subuh berkumandang kita diperintahkan untuk bangun, menyibakkan selimbut, menyentuh air dingin dengan berwudhu dan menembus dinginnya malam untuk pergi ke masjid demi mengerjakan shalat Subuh berjama’ah. Lalu dimanakah nikmatnya Islam?

Di bulan Ramadhan orang-orang non muslim dibebaskan makan dan minum sekehendak mereka, sementara umat Islam diperintahkan untuk menahan lapar dan haus di tengah terik panas matahari yang menyengat. Hingga muncul pula pertanyaan dalam diri, dimanakah nikmatnya Islam?

Kita pun harus banting tulang dan memeras keringat untuk mendapatkan harta, apalagi di zaman ini saat persaingan usaha mencari uang begitu ketat, yang tak jarang harus sampai mengorbankan nyawa, namun ketika harta itu didapat kita diperintahkan untuk mengeluarkan sebagiannya dan memberikannya kepada fakir miskin atau pihak-pihak lain tanpa ada kejelasan imbalan yang akan didapatkan. Lalu dimanakah nikmatnya Islam?

Seorang muslimah diwajibkan untuk memakai kerudung dan baju yang menutupi seluruh badan. Untuk memakainya dibutuhkan perjuangan terutama di daerah-daerah yang bercuaca panas. Di samping itu seringkali mendapat cemoohan seperti disebut kampungan, tidak modis dan sebagainya.

Itulah beberapa pikiran yang mengusik hati mempertanyakan nikmatnya Islam. Islam yang dinyatakan sebagai nikmat sering dirasa sebagai beban yang memberatkan. Lalu bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya. Siapakah yang salah? Untuk menyalahkan Allah tentu tidak mungkin karena Allah mustahil salah, namun kenyataan menunjukkan yang sebaliknya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi jawaban jitu atas persoalan yang sedikit pelik ini. Dalam haditsnya beliau bersabda, “Tiga perkara yang jika tiga perkara tersebut ada pada diri seseorang, dia akan merasakan manisnya keimanan (nikmatnya Islam): satu, Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang selain-Nya, dua, mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Allah dan ketiga, benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43).

Cinta itu bagaikan madu atau selaput gula yang menutupi obat yang rasanya pahit. Obat itu nikmat karena bisa menyehatkan, tapi rasanya pahit saat diminum, maka agar obat yang nikmat itu terasa lezat saat diminum ia harus dicampuri dengan madu atau gula saat meminumnya. Dengan cinta apa tadinya berat, sulit dan menyusahkan akan berubah menjadi sesuatu yang nikmat dan menyenangkan. Contohnya untuk bangun dan berjaga pada sekitar jam satu atau jam dua malam adalah sesuatu yang berat, tapi menjadi tidak masalah bagi orang yang hobi nonton bola, satu atau dua jam akan terasa seolah hanya supuluh menit saja. Sebaliknya saat shalat yang imamnya membaca surat yang sedikit panjang, shalat terasa begitu lama hingga tak jarang timbul gerutuan yang macam-macam sebab shalatnya tidak di sertai dengan rasa cinta. Padahal Rasulullah saat dirundung masalah dan kebingungan beliau memanggil Bilal, “Hiburlah diriku dengan shalat wahai Bilal.”

Jadi langkah untuk meraih nikmatnya Islam adalah dengan menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan memperdalam pengenalan (makrifat) kita kepada Allah dan Rasululullah. Sebab pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Di antara jalan untuk mengenal Allah adalah dengan membaca dan mengkaji aya-ayat Al-Qur’an. Sebab di antara tujuan Al-Qur’an adalah mengokohkan akidah dan keimanan pada diri manusia.

Langkah kedua untuk meraih nikmatnya Islam adalah dengan mewujudkan persaudaraan di antara sesama kaum muslimin. Persaudaraan yang dimulai dengan membersihkan hati dari rasa iri, dengki, curiga dan benci kepada sesama muslim. Jangan sampai perbedaan yang ada, seperti beda ormas, beda madzhab atau beda partai membuat kaum muslimin saling mencurigai satu sama lain. Perbedaan justru harus mendorong untuk saling melengkapi dan menambah warna kehidupan. Setelah hati bersih dari sifat iri, buruk sangka dan kebencian maka ditingkatkan menjadi persaudaraan yang mendorong untuk mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri bahkan lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri sebagaimana yang dicontohkan orang-orang Anshar kepada kaum Muhajirin. Saat ternaman rasa cinta yang mendalam seperti ini, maka zakat, sedekah, kurban dan pengorbanan-pengorbanan harta lainnya akan terasa sangat indah karena semua itu akan semakin mengokohkan ikatan persaudaraan yang sudah terjalin.

Untuk semakin merasakan nikmatnya Islam adalah dengan menanamkan rasa benci terhadap setiap hal yang dapat mendangkal keimanan dan keislaman kita. Bila kita kurang waspada terhadap langkah-langkah musuh Islam dalam mendangkalkan akidah dan akhlak kaum muslimin, bisa jadi tanpa kita sadari kita telah melenceng jauh dari ajaran Islam, lalu merasa nyaman dan senang dengan budaya, prilaku dan pemikiran orang-orang kafir. Sebab banyak program yang dibuat musuh Islam dikemas secara halus dan terselubung seakan sebuah kebenaran dan kemajuan, sehingga banyak kaum muslimin yang tertipu, lalu mereka menjadi pendukungnya dan pada waktu yang sama memandang ajaran Islam sebagai ajaran yang terbelakang dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Lebih jauh lagi mereka menentang ajaran Islam dan para pembelanya.

Sebagai contoh, ada sebagian kaum muslimin yang menjadi para pedukung gerakan persamaan gender, lalu menuduh bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mengekang kebebasan kaum wanita untuk berekspresi dan mengaktualisasikan potensi diri mereka. Siapa yang di antara kaum muslimin yang mempersoalkan pencalonan wanita sebagai kepala daerah atau presiden pasti akan mendapat serangan yang sengit dari mereka, padahal mereka itu nota benenya sebagai muslim atau muslimah.

Selain masalah gender, masih banyak program musuh-musuh Islam yang dikemas dalam program pendidikan, seni dan kebudayaan, media masa, olah raga, dan sebagainya. Kaum muslimin harus mewaspadai semua langkah musuh tersebut, karena dengan kewaspadaan yang terus menerus kita akan mampu mejaga utuhnya akidah, ibadah dan akhlak Islam kita. Dengan sikap seperti itulah, di samping cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya serta rasa cinta kepada sesama saudara seiman kita akan merasakan bahwa Islam itu nikmat.

Iman Sulaiman Lc, alumnus Fakultas Syariah Universitas Ibnu Su'ud (LPIA-Jakarta).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Mudah Selaras Sunnah

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali menjadikan dalam agama suaru kesempitan” (QS. Al-Hajj 78) Betapa mengherankannya manakala kita menyaksikan sebagian besar manusia mati-matian di dalam hidupnya seolah ia tidak akan pernah mati. Mati-matian untuk memperoleh secuil kenikmatan hidup, dengan mematikan hati nuraninya, mematikan pendengarannya, mematikan penglihatannya. Sejumput perhiasan dunia diraih dengan tidak lagi melihat halal-haram. Meraih tahta tanpa menghiraukan kehormatan dan kemuliaan diri. Merengkuh segala harta kekayaan dengan membuang segala kekayaan dirinya. Alangkah mengherankannya. Terlebih lagi, semua yang diperebutkan dan diraihnya di dunia hanya, hanyalah perhiasan sesaat. Ia hanyalah keindahan sesaat. Berapa lamakah manusia bisa menikmati seluruh harta kekayaannya di dunia ini? Ia tidak akan membawanya hingga ke kematiannya. Seberapa kuasakah manusia dengan segala kekuasaannya di dunia ini? Ia tidak akan bisa mengelak dari pertanggungjawaban di Yaumi...